KHUTBAH PERTAMA
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ الْبَيْتَ مَلَاذًا لِلْأَمْنِ وَالْإِيْمَانِ، وَزَيَّنَ الصُّدُورَ بِجَمَالِ الْأَدَبِ وَالْإِحْسَانِ. أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ أَنْ جَعَلَنَا مِنْ أُمَّةِ خَيْرِ الْأَنَامِ، الْمَبْعُوثِ لِتَتْمِيمِ مَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ لِلْأَنَامِ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، شَهَادَةً تُنْجِي قَائِلَهَا مِنْ مَهَالِكِ الْخُسْرَانِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أَكْرَمُ النَّاسِ خُلُقًا وَأَعْظَمُهُمْ شَأْنًا. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الطَّيِّبِينَ الطَّاهِرِينَ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا.
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah,
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT. Takwa yang bukan sekadar di lisan, melainkan takwa yang mewujud dalam gerak gerik langkah kehidupan kita sehari-hari.
Rumah adalah miniatur peradaban. Di bawah atap rumah kita masing-masing, tersimpan sebuah rahasia besar tentang masa depan umat ini. Keluarga bukan sekadar perkumpulan individu yang tinggal satu alamat, melainkan sebuah madrasah tempat adab disemai dan akhlak dituai. Namun hari ini, kita melihat degradasi moral merebak, rasa malu seolah menguap, dan kesantunan dianggap barang langka. Di manakah letak pertahanan kita? Pertahanan itu dimulai dari diri sendiri dan keluarga dengan teladan terbaik: Akhlak Nabawi.
Secara etimologi (lughatan), akhlak berasal dari kata al-khalaq (penciptaan) yang berkaitan erat dengan al-khalq (bentuk rupa). Jika wajah kita adalah pemberian Allah yang statis, maka "wajah batin" kita atau akhlak adalah tabiat yang dinamis, yang harus dipahat dan dididik agar menyerupai kemuliaan Nabi SAW.
Ketahuilah, akhlak bukanlah topeng yang kita pakai saat di depan publik. Secara ishthilahi, akhlak adalah tabiat atau perangai yang telah menetap dalam jiwa. Rasulullah SAW menghubungkan akhlak langsung dengan kualitas iman seseorang:
أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا
"Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya." (HR. Abu Dawud).
Jika kita ingin melihat grafik iman kita, jangan hanya lihat panjangnya shalat malam kita, tapi lihatlah bagaimana akhlak kita saat marah, bagaimana sikap kita saat kecewa. Naik turunnya iman kita berbanding lurus dengan indah buruknya akhlak yang muncul dari diri kita.
Pendidikan sejati bermula dari introspeksi. Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
"Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka..." (QS. At-Tahrim: 6).
Ayat ini dimulai dengan Anfusakum (dirimu sendiri). Kita tidak bisa menuangkan air dari teko yang kosong. Seringkali, kita terlalu sibuk mendidik "orang lain" hingga lupa mendidik diri sendiri. Kita menuntut kesantunan dari anak-anak, sementara kita sendiri masih kasar bertutur kata. Kita menuntut kejujuran dari pasangan, sementara kita masih menyembunyikan noda. Mendidik diri sendiri adalah syarat mutlak sebelum mendidik keluarga.
Landasan utama rumah tangga adalah akhlak yang shalih. Kita manusia tempatnya salah, namun akhlak seorang mukmin adalah segera bangkit saat jatuh. Nabi SAW bersabda:
كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ
"Setiap anak Adam pasti berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang salah adalah mereka yang bertaubat." (HR. Tirmidzi).
Jadikanlah taubat sebagai bagian dari akhlak harian kita. Jangan malu meminta maaf kepada istri atau anak jika kita salah, karena itu adalah puncak kemuliaan. Mendidik keluarga dengan akhlak bukanlah beban sosial, melainkan investasi akhirat. Rasulullah SAW bersabda:
مَا مِنْ شَيْءٍ أَثْقَلُ فِي مِيزَانِ الْمُؤْمِنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ
"Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat dalam timbangan amal seorang mukmin di hari kiamat melainkan akhlak yang baik." (HR. Tirmidzi).
Saat ini, kita prihatin dengan maraknya maksiat yang dipamerkan tanpa beban. Padahal, Al-Haya’ (rasa malu) dari kemaksiatan adalah inti akhlak yang baik. Nabi SAW menegaskan:
الْحَيَاءُ لَا يَأْتِي إِلَّا بِخَيْرٍ
"Rasa malu itu tidaklah mendatangkan kecuali kebaikan." (HR. Bukhari & Muslim).
Jika rasa malu hilang, benteng pertahanan manusia runtuh. Ramaikanlah rumah kita dengan rasa malu kepada Allah; malu berbicara kasar, malu meninggalkan shalat, dan malu menyakiti hati sesama.
Imam Malik bin Anas rahimahullah pernah berpesan: "Pelajarilah adab sebelum engkau mempelajari ilmu."
Bayangkanlah sebuah gelas. Ilmu adalah air, sedangkan adab adalah gelasnya. Jika gelasnya bersih dan kokoh, maka air di dalamnya bermanfaat. Namun jika gelasnya kotor atau pecah, maka air yang jernih sekalipun akan terbuang sia-sia. Pendidikan kita saat ini seringkali sibuk menambah volume "air" (prestasi akademik), namun lupa memperbaiki kualitas "gelas" (akhlak).
Jamaah yang dirahmati Allah,
Pendidikan akhlak dalam keluarga adalah urat nadi keselamatan umat. Marilah kita ingat tiga kunci:
Qudwah (Teladan): Jadilah contoh sebelum memberi perintah.
Haya’ (Malu): Hidupkan rasa malu kepada Allah di tengah badai zaman.
Ishlah (Perbaikan): Jadikan taubat sebagai akhlak harian, dan jangan berhenti menasehati meskipun kita sedang dalam proses memperbaiki diri.
Jangan biarkan setan menghalangi Anda menasehati orang lain dengan bisikan "dirimu belum benar". Memperbaiki diri adalah kewajiban, dan menasehati adalah perintah yang berdiri sendiri. Nasihatilah keluargamu meskipun engkau masih tertatih memperbaiki diri.
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
(QS. Al Ahzab: 21).
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
KHUTBAH KEDUA
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ،
فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ
اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى
اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ
اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تَحُولُ بِهِ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ، وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا،
اللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا، وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا، وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا،
وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا، وَلَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَلَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لَا يَرْحَمُنَا.
اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ
رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.
عِبَادَ اللّٰهِ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ. يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.
فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ. وَ اشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُ
